PHP adalah sebuah bahasa pemrograman yang khusus digunakan untuk membuat website atau aplikasi berbasis web. Saat ini, jika anda sekedar ingin membuat sebuah ‘blog’ anda cukup menggunakan CMS (Content Management System). Namun, jika anda hendak membuat aplikasi yang cukup rumit seperti aplikasi Human Resources, Aplikasi Keuangan seperti reksadana, atau aplikasi lainnya yang memerlukan banyak kustomisasi, maka anda perlu mengerti tentang bahasa pemrograman.

PHP bukanlah satu-satunya bahasa pemrograman yang bisa digunakan untuk membuat web. Bahasa pemrograman yang lainnya misalkan ASP.NET, Java dan Ruby. Untuk bahasa pemrograman yang lainnya, mungkin akan saya bahas lain kali.

Kalau anda cari di google, mungkin saat ini sudah banyak yang membahas tentang PHP, karena memang PHP sama sekali bukanlah hal yang baru. Banyak artikel yang membahas tentang PHP bisa anda temukan dengan mudah di internet baik yang berbahasa indonesia apalagi yang berbahasa inggris.

Nah, alasan saya menulis kembali tentang PHP adalah selain untuk mengingat kembali apa yang sebelumnya sudah saya pelajari, juga untuk menambah sumber bacaan yang mudah dipahami terutama bagi yang benar-benar baru dalam dunia pemrograman PHP. Jika anda adalah seorang programmer PHP yang sudah cukup berpengalaman di dunia kerja, saya kira tulisan bukanlah untuk anda😀.

Apa itu PHP?

Sebelumnya, sudah saya tulis bahwa PHP adalah bahasa pemrograman web. Namun, saya rasa tidak cukup hanya menjelaskannya sebagai bahasa pemrograman web. Dalam membuat website terkadang kita menggunakan bahasa lain juga, seperti HTML dan Javascript, perbedaan antara PHP, HTML dan Javascript secara sederhana adalah sebagai berikut:

PHP

  • Berjalan pada sisi server (Server Side Scripting Language) dimana kode program dieksekusi oleh web server.
  • Memerlukan sebuah web server untuk bisa menjalankan PHP.
  • Bisa digunakan untuk berinteraksi dengan database.
  • Bersifat dinamis, yaitu konten dapat berubah-ubah tergantung sumber datanya dan bagaimana data diolah.

HTML

  • Berjalan pada sisi client / browser dimana kode program dieksekusi oleh browser seperti Mozilla, Chrome dll.
  • Tidak bisa digunakan secara langsung untuk berinteraksi dengan database.
  • Tidak diperlukan web server untuk menjalankan HTML.
  • Konten bersifat statis.

Javascript

  • Berjalan pada sisi client / browser dimana kode program dieksekusi oleh browser seperti Mozilla, Chrome dll.
  • Umumnya tidak digunakan untuk berinteraksi dengan database, namun belakangan muncul beberapa framework yang menggunakannya untuk berinteraksi dengan database.
  • Tidak diperlukan web server.
  • Konten bisa bersifat dinamis.

Seperti yang telah dijelaskan diatas, PHP berjalan pada web server. Web server adalah sebuah program yang digunakan untuk mengeksekusi program kemudian mengirimkannya ke browser untuk ditampilkan sebagai website. Contoh dari web server yang sering digunakan diantaranya Apache dan nginx yang merupakan web server free.

 

Conditional Statement

Kali ini kita akan belajar tentang conditional statement. Apa itu conditional statement? Conditional statement adalah pemilihan diantara dua pilihan atau lebih. Dalam PHP (dan bahasa pemrograman lainnya) kita mengenal adanya if-else. Perhatikan contoh berikut           :

<?php

 

$nilai = true;

 

if ($nilai == true) {

echo “hello”;

}

 

?>

Pada contoh diatas, tulisan hello hanya akan ditampilkan ‘jika’ variabel nilai bernilai true. if($nilai == true) jika diterjemahkan ke dalam bahasa manusia berarti ‘jika variabel $nilai bernilai true’. Contoh lain dari conditional statement adalah sebagai berikut        :

<?php

 

$nilai = true;

 

if ($nilai == true) {

echo “hello”;

}

else

{

echo “tidak hello”;

}

 

?>

Kode program diatas jika diterjemahkan ke dalam bahasa manusia berarti “Jika variabel $nilai bernilai true, maka tampilkan ‘hello’. Jika tidak, tampilkan ‘tidak hello’”. Cukup mudah dipahami bukan? Jika contoh diatas dijalankan melalui browser, maka akan ditampilkan tulisan “hello”, karena variabel $nilai bernilai true. Sekarang, coba anda ubah variabel nilai menjadi ‘false’ seperti ditunjukkan pada contoh program di bawah ini   :

<?php

 

$nilai = false;

 

if ($nilai == true) {

echo “hello”;

}

else

{

echo “tidak hello”;

}

 

?>

Maka, kali ini yang ditampilkan pada browser bukan tulisan ‘hello’ tetapi ‘tidak hello’. Hal ini karena variabel $nilai tidak bernilai true. Selain, if dan else, pada conditional statement terdapat juga ‘elseif’. elseif digunakan untuk pemilihan dengan kondisi lebih dari satu. Contoh dari penggunaan elseif adalah sebagai berikut    :

<?php

 

$buah = “jeruk”;

 

if ($buah == “apel”) {

 

echo “apel”;

 

}

elseif ($buah == “jeruk”)

{

echo “jeruk”;

}

elseif ($buah == “mangga”)

{

echo “mangga”;

}

else

{

echo “bukan apel ataupun jeruk”;

}

 

?>

Pada contoh diatas, yang akan ditampilkan adalah “jeruk”. Perhatikan syntax elseif diatas memiliki cara penggunakan yang hampir sama dengan if. Perbedaannya, elseif harus digunakan setelah if.

Satu hal yang perlu diperhatikan pada penggunaan conditional statement adalah kita harus menggunakan ‘==’ pada kondisinya, bukan ‘=’. Jadi, sintax seperti dibawah ini adalah sintax yang   ‘salah’  :

<?php

 

$nilai = false;

 

if ($nilai = true) {

echo “hello”;

}

 

?>

 

 

Menggunakan ‘and’ dan ‘or’ Pada Conditional Statement

Pada conditional statement kita juga bisa menggunakan ‘and’ dan ‘or’. ‘and’ biasanya dituliskan dengan menggunakan && sedangkan or dengan menggunakan ||

Contohnya adalah sebagai berikut      :

<?php

 

$mangga = “manis”;

$jeruk  = “segar”;

 

if ($mangga == “manis” && $jeruk == “segar”) {

echo “beli buah”;

}

 

?>

Pada contoh diatas, tulisan “beli buah” hanya akan ditampilkan apabila $mangga itu “manis” dan $jeruk itu “segar”. Jika salah satu tidak terpenuhi maka tulisan “beli buah” tidak akan ditampilkan. Dengan demikian, kedua-duanya haruslah terpenuhi.

Contoh penggunaan or adalah sebagai berikut           :

<?php

 

$mangga = “manis”;

$jeruk  = “tidak segar”;

 

if ($mangga == “manis” || $jeruk == “segar”) {

echo “beli buah”;

}

?>

Pada ‘or’, tulisan “beli buah” akan ditampilkan jika salah satu kondisi saja terpenuhi. Pada contoh diatas, “beli buah” akan ditampilkan meskipun $jeruk itu “tidak segar”.

 

Looping

Looping atau perulangan adalah suatu cara melakukan sesuatu secara berulang-ulang dengan menggunakan kode program. Misalnya, apabila kita ingin menampilkan “Hello World” sebanyak sepuluh kali, kita hanya perlu menuliskannya sekali. Kode php-lah yang akan menampilkannya sebanyak sepuluh kali. Looping pada php ada beberapa jenis, misalnya for, while, foreach dan do-while.

Looping menggunakan for

Untuk looping yang pertama yaitu for. Contoh cara menggunaka looping dengan menggunakan for adalah sebagai berikut :

<?php

 

for ($i=1; $i <= 10; $i++) {

echo “hello world”;

}

?>

Dengan menggunakan kode seperti diatas, maka tulisan ‘hello world’ akan ditampilkan sebanyak 10 kali. Perhatikan statement yang berada di dalam tanda kurung setelah for, pada statement tersebut dinyatakan bahwa nilai awal dari variabel $i adalah 1 ($i = 1). Kemudian, selama $i kurang dari sama dengan 10 maka perulangan akan terus dijalankan ($i <= 10) dimana setiap kali perulangan dilakukan nilai $i akan ditambahkan dengan 1 ($i++). Jadi, ketika program menampilkan “hello world” untuk pertama kali maka nilai $i adalah 1. Untuk yang kedua kali maka nilai $i adalah 2 dan seterusnya. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut     :

<?php

 

for ($i=1; $i <= 10; $i++) {

echo “\n nilai variabel \$i sekarang adalah = “.$i;

}

 

?>

Jika anda jalankan program diatas pada browser, maka akan ditampilkan kira-kira sebagai berikut             :

nilai variabel $i sekarang adalah = 1

nilai variabel $i sekarang adalah = 2

nilai variabel $i sekarang adalah = 3

nilai variabel $i sekarang adalah = 4

nilai variabel $i sekarang adalah = 5

nilai variabel $i sekarang adalah = 6

nilai variabel $i sekarang adalah = 7

nilai variabel $i sekarang adalah = 8

nilai variabel $i sekarang adalah = 9

nilai variabel $i sekarang adalah = 10

Catatan : “\n pada contoh program diatas adalah untuk membuat baris baru.

Looping menggunakan while

Baik dengan menggunakan while ataupun for, pada prinsipnya proses perulangan itu sama saja. Contoh cara membuat perulangan dengan menggunakan while adalah sebagai berikut     :

<?php

 

$i = 1;

while ($i <= 10) {

echo “Hello World”;

$i++;

}

 

?>

Pada contoh penggunaan while diatas, hampir sama dengan ketika menggunakan for yaitu terdapat inisialisasi variabel yaitu $i = 1 , kemudian terdapat pula batasan sampai kapan perulangan akan dilakukan yaitu selama $i <= 10. Selain, itu juga terdapat $i++ yang merupakan faktor penambah pada variabel $i.

Looping menggunakan do-while

Looping dengan menggunakan do-while pada dasarnya sama saja dengan while. Yang membedakan adalah kondisi dituliskan di bagian akhir perulangan, perhatikan contoh berikut:

<?php

 

$i = 1;

do{

echo “Hello World”;

$i++;

}while ($i <= 10)

 

?>

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa manusia kode diatas berarti “lakukan (do) semua perintah yang ada di dalam kurung kurawal, selama (while) $i kurang dari sama dengan sepuluh.

 

Array

Array adalah suatu cara menyimpan banyak data dalam satu variabel. Biasanya dalam bahasa pemrograman lain, data-data yang disimpan pada array haruslah data yang sejenis. Namun, pada PHP anda bebas menyimpan data dengan tipe apa saja misalkan string dan integer. Kemudian, data-data yang disimpan dalam variabel tersebut bisa dibedakan dengan menggunakan index. Berikut ini adalah contoh cara mendeklarasikan array pada PHP :

<?php

$my_array = array(“mangga”, “melon”, “apel”, “jeruk”);

?>

Dengan mendefinisikan array seperti pada contoh diatas, maka secara otomatis item-item yang terdapat pada array tersebut memiliki index yang dimulai dari angka 0. Dengan demikian, “mangga” memiliki index 0, melon memiliki index 1, apel memiliki index 2 dan jeruk memiliki index 3. Jika anda hendak menampilkan “apel” dari dalam array tersebut maka anda bisa menggunakan syntax sebagai berikut                      :

<?php

$my_array = array(“mangga”, “melon”, “apel”, “jeruk”);

 

echo $my_array[2];

?>

Angka 2 pada syntax diatas menunjukkan index dari array $my_array. Dengan cara tersebut, kita akan menampilkan data dari $my_array yang memiliki index = 2. Untuk lebih jelasnya, array diatas juga bisa didefinisikan seperti berikut             :

<?php

$my_array = array(0 => “mangga”, 1 => “melon”, 2 => “apel”, 3 => “jeruk”);

?>

Hasil dari syntax diatas sama saja dengan pendefinisian array sebelumnya. Cara lain untuk mendefinisikan array adalah sebagai berikut             :

<?php

$my_array[0] = “mangga”;

$my_array[1] = “melon”;

$my_array[2] = “apel”;

$my_array[3] = “jeruk”;

?>

Array dengan tipe data campuran

Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, bahwa array pada php mendukung tipe data campuran. Perhatikan contoh dibawah ini     :

<?php

$my_array = array(0 => “mangga”, 1 => 125, 2 => true);

?>

 

Menambahkan data pada array yang sudah didefinisikan

Pada bahasa pemrograman lain, misalnya java ketika sebuah array sudah didefinisikan, maka jumlah data pada array tersebut tidak bisa ditambah lagi. Berbeda dengan PHP, pada PHP anda bisa menambahkan data baru pada array sesukanya. Misal                     :

<?php

$my_array = array(“mangga”, “melon”, “apel”, “jeruk”);

 

……

 

$my_array[4] = “semangka”;

?>

 

 

Membuat index sembarang

Index pada array tidaklah selalu harus berupa angka, dan tidaklah selalu harus terurut. Dengan kata lain, anda bisa saja membuat index secara sembarang sesuai selera anda. Hal ini tidak akan anda temui dalam bahasa pemrograman lainnya. Contoh penggunaan index sembarang adalah sebagai berikut          :

<?php

$my_array = array(“buah1” => “mangga”, “buah_dua” => “melon”, “buah_apel” => “apel”, 3 => “jeruk”);

?>

atau

<?php

$my_array[“buah1”] = “mangga”;

$my_array[“buah_dua”] = “melon”;

$my_array[“buah_apel”] = “apel”;

$my_array[3] = “jeruk”;

?>

Untuk menampilkan salah satu data di browser caranya sama saja. Misal, anda ingin menampilkan buah melon. Maka, anda tinggal melakukannya dengan cara sebagai berikut        :

<?php

$my_array = array(“buah1” => “mangga”, “buah_dua” => “melon”, “buah_apel” => “apel”, 3 => “jeruk”);

 

echo $my_array[“buah_dua”];

?>

Dimana “buah_dua” adalah index dari “melon”.

 

Menampilkan seluruh data dengan menggunakan foreach

Sebelumnya, saya telah membahas mengenai looping. Nah, foreach adalah salah satu bentuk dari looping yang khusus digunakan untuk menampilkan data dari sebuah array. Misal                        :

<?php

$my_array = array(0 => “mangga”, 1 => “melon”, 2 => “apel”, 3 => “jeruk”);

 

foreach ($my_array as $index => $nilai){

 

echo “array dengan index “.$index.” memiliki memiliki nilai = “.$nilai;

}

?>

Saya rasa dengan membaca syntax diatas anda bisa tahu cara penggunaan foreach. Perhatikan, pada tanda kurung setelah `foreach`, $my_array adalah array yang telah kita definisikan sebelumnya, $index adalah variabel yang akan digunakan didalam foreach untuk menampilkan index array. Sedangkan $nilai adalah variabel yang akan digunakan di dalam foreach untuk menampilkan $nilai dari array tersebut.

 

Mengenal Fungsi

 

Fungsi pada PHP biasanya digunakan untuk mengelompokan beberapa baris program. Baris program tersebut kemudian bisa dipanggil dari luar fungsi, baik satu kali maupun berulang-ulang. Dengan menggunakan fungsi, anda tidak perlu menulis kode program berkali-kali.

Contoh cara penggunaan fungsi adalah sebagai berikut         :

<?php

public function nama_fungsi($parameternya)

{

# Kode Program…

}

?>

Fungsi tersebut kemudian dapat dipanggil seperti berikut     :

<?php

nama_fungsi($parameter);

?>

Dengan cara diatas, fungsi dengan nama ‘nama_fungsi’ akan dipanggil dan semua kode program yang ada didalam fungsi tersebut akan dijalankan. Sebuah fungsi bisa memiliki parameter ataupun tidak tergantung bagaimana fungsi tersebut didefinisikan. Selain itu, sebuah fungsi bisa memiliki nilai kembalian atau tidak memiliki nilai kembalian.

Fungsi tanpa parameter

Berikut adalah contoh cara menampilkan “Hello World” melalui sebuah fungsi       :

<?php

public function nama_fungsi()

{

echo “Hello World”;

}

 

// Panggil fungsi diatas

nama_fungsi();

?>

Diatas adalah contoh fungsi tanpa parameter (juga tanpa nilai kembalian). Dengan dipanggilnya fungsi bernama ‘nama_fungsi’ akan ditampilkan “Hello World” pada browser.

Fungsi menggunakan parameter

Perhatikan contoh di bawah ini          :

<?php

public function nama_fungsi($tulisan)

{

echo $tulisan;

}

 

// Panggil fungsi diatas

nama_fungsi(“Hello World”);

?>

Output dari fungsi diatas sama dengan pada contoh sebelumnya, yaitu menampilkan “Hello World” pada browser. Perbedaannya, sekarang “Hello World” dilemparkan sebagai parameter melalui nama_fungsi(“Hello World”).

Pada contoh diatas, apabila anda tidak melewatkan parameter ketika memanggil fungsi maka program akan error. Contoh program seperti dibawah ini adalah program yang akan error ketika dijalankan karena parameter tidak disertakan.

<?php

public function nama_fungsi($tulisan)

{

echo $tulisan;

}

 

// Panggil fungsi diatas

nama_fungsi();

?>

Sebagai solusinya, anda bisa menggunakan ‘default value’ pada parameter tersebut dengan cara sebagai berikut   :

<?php

public function nama_fungsi($tulisan = “Hello World”)

{

echo $tulisan;

}

 

// Panggil fungsi diatas

nama_fungsi();

?>

Pada contoh diatas apabila parameter tidak disertakan, maka program tidak akan error dan tetap akan menampilkan “Hello World” karena merupakan default value. Apabila parameter disertakan, maka parameter itulah yang akan ditampilkan. Misal      :

<?php

public function nama_fungsi($tulisan = “Hello World”)

{

echo $tulisan;

}

 

// Panggil fungsi diatas

nama_fungsi(“Apa Kabar”);

?>

Pada contoh diatas, yang akan ditampilkan adalah tulisan “apa kabar”. Sedangkan “Hello World” tidak akan ditampilkan karena hanya sebagai alternative apabila parameter tidak disertakan.

 

Fungsi yang memiliki nilai kembalian (return value)

Beberapa contoh diatas baik yang memiliki parameter ataupun tidak merupakan fungsi yang tidak memiliki nilai kembalian karena hanya melakukan ‘echo’ dan tidak ada return didalamnya. Contoh fungsi yang memiliki nilai kembalian adalah sebagai berikut                   :

<?php

public function nama_fungsi()

{

$hello = “Hello World”;

return $hello;

}

 

$apa_kabar = nama_fungsi();

?>

Dengan menggunakan cara diatas, maka variabel $apa_kabar akan berisi tulisan “Hello World” yang bertipe data string. Jika, anda tampilkan variabel $apa_kabar pada browser, maka “Hello World” akan ditampilkan.

 

 

Mengenal OOP Pada PHP

 

Seperti halnya pada bahasa pemrograman lain seperti java, pada PHP juga dikenal adanya OOP (Object Oriented Programming) atau dikenal juga dengan pemrograman berorientasi objek. Pada OOP dikenal adanya class, atribute dan method. Class adalah sebuah definisi dari atribut dan method yang kemudian bisa dibuat objeknya.

Perhatikan contoh class berikut ini     :

<?php

class nama_class

{

 

$attribute1 = “nilai attribute 1”;

$attribute2 = “nilai attribute 2”;

 

public function method1()

{

# code…

}

 

public function method2()

{

# code…

}

}

?>

Sebuah class terdiri dari nol, satu atau beberapa atribut dan juga terdiri dari nol, satu atau beberapa method. Sebuah class kemudian dapat di instansiasi dengan menggunakan syntax new. Sebagai contoh       :

$instansiasi = new nama_class();

Dengan cara seperti itu, maka atribut dan method yang ada pada class bernama ‘nama_class’ dapat diakses melalui variabel $instansiasi Contoh   :

<?php

class nama_class

{

 

$attribute1 = “nilai attribute 1”;

$attribute2 = “nilai attribute 2”;

 

public function method1()

{

# code…

}

 

public function method2()

{

# code…

}

}

 

$instansiasi = new nama_class();

 

//Contoh mengubah nilai attribute 1

$instansiasi->attribute1 = “Hello World”;

 

//Contoh mengambil nilai attribute 1

$apakabar = $instansiasi->attribute1;

?>

Pada OOP, class hanya berfungsi sebagai ‘cetakan/alat cetak’ untuk membuat objek. Artinya ketika anda mengubah nilai dari sebuah atribut, maka yang berubah adalah atribut dari objek tersebut, bukan class-nya. Misal      :

<?php

class nama_class

{

 

$attribute1 = “nilai attribute 1”;

$attribute2 = “nilai attribute 2”;

 

public function method1()

{

# code…

}

 

public function method2()

{

# code…

}

}

 

$instansiasi  = new nama_class();

$instansiasi2 = new nama_class();

 

$instansiasi->attribute1 = “Hello World”;

$instansiasi2->attribute1 = “Tidak Hello World”;

 

echo $instansiasi->attribute1;

echo $instansiasi2->attribute1;

 

?>

Sekarang, jika program diatas anda buka melalui browser, maka ‘attribute1′ dari objek ‘$instansiasi’ akan berbeda dengan ‘attribute1′ dari objek ‘$instansiasi2′. Pada $instansiasi, attribute1 = “Hello World” sedangkan pada ‘$instansiasi2′ attribute1 = “Tidak Hello world”.

Memanggil Method

Untuk memanggil method dari sebuah objek caranya adalah sebagai berikut           :

<?php

 

// definisi class dipersingkat supaya tidak memakan tempat.

class nama_class

{

 

public function method1()

{

# code…

}

 

}

 

$instansiasi  = new nama_class();

 

// Memanggil method dari sebuah class

$instansiasi->method1();

 

?>

Mengenal Access Modifier

Pada PHP, seperti halnya juga pada bahasa pemrograman lain, terdapat batasan bagaimana sebuah attribute atau method yang ada di dalam sebuah class bisa diakses. Batasan tersebut dinamakan access modifier. Ada beberapa macam access modifier diantaranya adalah public, private dan protected.

<?php

 

class nama_class

{

// access modifier pada attribute.

public    $attribute1 = “Hello”;

private   $attribute2 = “Apa Kabar”;

protected $attribute2 = “Apa Kabar”;

 

// access modifier ditulis sebelum syntax ‘function’

public function method1()

{

# code…

}

 

}

 

?>

Perbedaan access modifier public, private dan protected adalah sebagai berikut      :

  • Pada access modifier ‘public’ sebuah attribute atau fungsi dapat diakses dari mana saja termasuk dari luar class tersebut.
  • Pada access modifier ‘private’ attribute atau fungsi hanya dapat diakses dari dalam class yang bersangkutan.
  • Sedangkan, pada access modifier ‘protected’ attribute atau fungsi hanya dapat diakses dari class yang bersangkutan dan class turunannya. Mengenai apa itu class turunan, akan saya bahas pada bagian inheritance dan polimorfisme pada posting selanjutnya.

Menggunakan Keyword Static

Dengan menggunakan keyword static, anda bisa mengakses atribut dan method dari suatu class tanpa melakukan instansiasi dari class tersebut. Cara mendefinisikan atribut static adalah sebagai berikut                  :

<?php

 

class nama_class

{

public static $attribute1 = “Hello”;

 

}

 

?>

Kemudian anda bisa mengakses $attribute1 hanya dengan cara sebagai berikut tanpa harus melakukan instansiasi (menggunakan perintah new)  :

<?php

 

$hello = nama_class::$attribute1;

 

?>

Kelemahan dari atribut yang menggunakan keyword static adalah tidak bisa diakses dari class yang diinstansiasi. Dengan demikian, kode program seperti yang ditunjukkan di bawah ini akan mengalami error       :

<?php

 

$the_class = new nama_class();

$hello = $the_class->$attribute1;

 

?>